Kisah Perempuan Terkaya: Muda, Cantik, dan Usaha Secara Mandiri

Dulu orang terkaya dunia kerap diidentikkan dengan sosok laki-laki tua, mengenakan jas, dan gemar berderma alias menjadi filantropi. Dengan uang yang tidak berseri, saking sulitnya menghitung kekayaan mereka, sudah tentu mereka tidak perlu hidup susah. Uang mereka bisa membeli apa saja yang diinginkan. Tak hanya itu, kekayaan mereka juga cukup untuk menghidupi keturunannya.

Keturunan para milyarder inilah yang kerap menghiasi daftar orang terkaya dunia. Termasuk para perempuan beruntung pewaris harta milyarder dunia. Contohnya, Aerin Lauder, pewaris merek kosmetik kenamaan Estee Lauder, atau Tamara Ecclestone, putri pemimpin Formula One Group, Bernie Ecclestone.

Namun, hal ini tidak berlaku pada Zhou Qunfei, 47 tahun. Belum lama ini Forbes merilis daftar 56 perempuan terkaya di dunia yang berasal dari usaha sendiri, alias bukan warisan. Zhou duduk manis di peringkat 1 dengan total kekayaan mencapai $7,4 milyar! Kira-kira apa yang membuat Zhou bisa sedemikian kaya?

kisah perempuan kaya

Semua Karena Layar Smartphone

Kisah perempuan terkaya dunia ini berawal dari perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku. CNBC menulis, Zhou besar di sebuah desa kecil di wilayah Cina daratan. Ibunya sudah tiada sejak ia masih berusia 5 tahun. Ayah Zhou mengalami kecelakaan kerja yang berakibat ia kehilangan satu jari dan mengalami kebutaan parsial. Zhou kecil pun harus bekerja keras untuk mencari tambahan uang dan makanan demi keluarganya.

Namun, pada usia 16 tahun, pendidikan menengahnya terpaksa ia tinggalkan. Ia harus fokus menghidupi keluarganya. Tidak lama setelah berhenti sekolah, ia mendapatkan sebuah pekerjaan di pabrik untuk membuat lensa jam tangan dengan bayaran sekitar $1 per hari.  Jam kerjanya bisa sangat panjang, mulai jam 8 pagi hingga tengah malam. Kadang bisa sampai jam 2 dini hari.

Tidak ada pergantian kerja atau shift. Hanya sedikit orang yang bekerja di pabrik itu. Zhou pun merasa tidak bisa menikmati pekerjaan itu sama sekali. Bosan dengan tugas yang monoton, ditambah bayaran yang kecil, Zhou menulis surat berisi keluhan pada bosnya dan mengajukan pengunduran diri. Alih-alih mengabulkan permohonan Zhou, ia malah ditawari promosi.

Kesempatan ini justru digunakan Zhou untuk belajar banyak hal. Ia memutuskan untuk tinggal beberapa tahun lagi dan menimba ilmu seputar manufaktur kaca. Tak hanya mengasah keterampilan soal pembuatan lensa, ia juga meningkatkan keterampilan manajemennya.  Saat dirasa sudah cukup, memasuki usia 22 tahun, Zhou memutuskan berhenti bekerja di pabrik tersebut.

Bermodalkan $3.000, bersama beberapa kerabatnya Zhou mendirikan workshop. Apa yang ia buat? Tentu saja lensa jam, seperti keahlian yang ia tekuni bertahun-tahun lamanya. Pada masa-masa awal usahanya, Zhou menetap dan bekerja di sebuah apartemen kecil. Ia tidak tinggal sendirian, tetapi juga bersama saudara dan sepupunya. Perlahan tapi pasti, bisnis Zhou ini mulai berkembang.

Seiring perkembangan smartphone, usaha Zhou mulai merambah ke layar smartphone. Tahun 2003, Motorola memasukkan nama Lens Technology untuk merancang layar kaca antigores milik tipe Razr V3. Setelah itu, berduyun-duyun pabrik smartphone raksasa menjadikan perusahaan Zhou ini sebagai supplier layar produk mereka. Mulai dari Nokia, HTC, Samsung, hingga Apple di tahun 2007. Semuanya meminta Zhou memproduksi layar sentuh dari smartphone milik mereka.

Inilah yang membuat Lens Technology lepas landas. Perusahaan ini pun mendominasi di Cina. Lalu Zhou berinvestasi besar dalam pembangunan fasilitas dan mempekerjakan tenaga ahli. Dalam lima tahun, ia punya tiga pabrik yang sedang dibangun secara bersamaan.

Banyak koleganya bercerita, Zhou sangat detail dalam segala hal. Bahkan, ia merancang dan membuat sendiri hampir setiap langkah dari proses pembuatan produknya. Setiap detail itu berharga dan semua langkah harus dilakukan secara akurat. Prinsip ini jugalah yang memboyong Zhou ke pemegang tahta perempuan terkaya di dunia versi Forbes.

Kini Lens Technology sudah go public di bursa efek Cina. Zhou pun sudah berencana mengekspansi bisnisnya ke tingkat lebih tinggi, seperti memproduksi kaca berbahan safir dan keramik. Kisah perempuan terkaya dunia ini membuktikan bahwa kerja keras itu selalu berbuah manis. Anda tinggal menambahkan persistensi dan dedikasi untuk menggenapi kerja keras tersebut. Sangat inspiratif, bukan?

Source:

Michael Kosmas. “Top 10+ Youngest Female Billionaires In The Worid.” Youngtrepreneurs. http://www.youngtrepreneurs.com/2017/04/12/top-10-youngest-female-billionaires-in-the-world/

Chloe Sorvino. “The World’s 56 Self-Made Women Billionaires: The Definitive Ranking.” Forbes. https://www.forbes.com/sites/chloesorvino/2017/03/08/the-worlds-56-self-made-women-billionaires-the-definitive-ranking/#222b425568a2

Ruth Umoh. “This Former Factory Worker is Now The Richest Self-Made Woman.” CNBC. https://www.cnbc.com/2017/07/17/meet-zhou-qunfei-the-worlds-richest-self-made-woman.html

David Barboza. “How a Chinese Billionaire Built Her Fortune.” The New York Times. https://www.nytimes.com/2015/08/02/business/international/how-zhou-qunfei-a-chinese-billionaire-built-her-fortune.html