Mengapa Wanita yang Melakukan Aborsi Membutuhkan Dukungan Mental?

Selain dianggap melanggar hukum, tindakan aborsi juga masih mendapat pandangan negatif dari berbagai lapisan masyarakat. Seringkali kata “aborsi” dikaitkan dengan kehidupan seks bebas yang menyebabkan hamil di luar nikah. Padahal, tindakan mengakhiri kehamilan (aborsi) juga dilakukan atas dasar alasan lainnya, salah satunya terkait faktor medis dan faktor eksternal (perkosaan).

dukungan mental pada wanita

Biasanya, karena sulitnya mendapatkan akses klinik aborsi untuk melakukan aborsi secara legal membuat wanita yang ingin menggugurkan kandungannya memilih cara yang ilegal, seperti minum pil peluntur kandungan atau menggunakan bantuan dukun beranak. Bukan hanya berisiko secara fisik, aborsi ilegal juga berakibat buruk pada kondisi psikologi, seperti diantaranya merasa bersalah. Jika tidak segera ditangani, perasaan bersalah tersebut dapat membahayakan jiwa karena yang bersangkutan akan mengalami frustrasi, kekosongan jiwa, hingga depresi berat.

Depresi pada mereka yang melakukan aborsi secara legal (Dokter Spesialis Kandungan) memiliki angka yang LEBIH RENDAH

Berdasarkan studi yang diterbitkan oleh JAMA Psychiatry pada tahun 2016, wanita yang memutuskan untuk melakukan aborsi legal mampu melanjutkan hidupnya tanpa mengalami depresi, gangguan kecemasan, atau merasa rendah diri terkait keputusan yang mereka buat. Sebaliknya, wanita yang mendapatkan penyangkalan untuk menjalani prosedur (termasuk bayang-bayang hukuman pidana jika melakukan aborsi ilegal) mengalami peningkatan rasa rendah diri dan kecemasan segera setelah kasusnya ditolak.

Sementara itu, tim peneliti dari University of California, San Francisco, menyelidiki hampir 1.000 wanita di 21 negara berbeda yang mempertimbangkan aborsi selama lima tahun terakhir. Peserta yang terlibat dibagi menjadi dua sub kelompok, yakni wanita yang menerima aborsi dan yang ditolak karena memiliki kehamilan di luar batas maksimal sesuai hukum negara setempat (24-26 minggu). Kelompok yang ditolak dibagi kembali menjadi kelompok yang mengakses aborsi menggunakan cara lain dan yang tetap mempertahankan kehamilannya hingga melahirkan. Setiap 6 bulan, tim peneliti mengalami setiap peserta yang terlibat untuk menganalisa kesehatan mental mereka.

Hasilnya, kelompok yang permohonan aborsinya ditolak dan memutuskan untuk melakukan aborsi dengan cara ilegal (aborsi sendiri) dilaporkan memiliki tingkat kecemasan tertinggi, dengan kepuasan hidup dan harga diri yang terendah, seminggu setelah permohonan aborsinya ditolak. Dari hasil tersebut, para peneliti yang terlibat mengemukakan bahwa stres awal merupakan kemungkinan dari hasil penolakan mentah-mentah. Namun, masih dihantui oleh berbagai alasan untuk mencari kesempatan melakukan aborsi, seperti masalah keuangan dan lain sebagainya.

Depresi akibat penyangkalan aborsi berisiko pada ibu dan calon janin

Depresi yang dirasakan wanita setelah mendapatkan penyangkalan atas keputusan aborsi yang dilakukannya sangat berisiko, baik bagi dirinya sendiri maupun janin yang dikandungnya. Terlebih jika pada akhirnya kehamilan tersebut tidak jadi digugurkan.

Salah satu potensi risiko depresi selama masa kehamilan yang tidak segera diobati dapat memicu kecenderungan mengonsumsi obat-obatan terlarang dan minuman keras, hingga kecenderungan melakukan bunuh diri. Sementara pada janin, dapat menyebabkan berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, hingga masalah terkait perkembangan bayi. Selain itu, depresi juga menyebabkan wanita cenderung tidak memiliki keinginan atau kemampuan untuk merawat dirinya sendiri maupun bayi dalam kandungannya.

Oleh karena itu, penting untuk memberikan dukungan pada wanita yang ingin melakukan aborsi secara legal. Terutama dukungan tersebut berasal dari keluarga, pasangan, dan lingkungan sekitar pelaku aborsi yang bersangkutan. Tidak terkecuali kesempatan untuk mengakses pelayanan aborsi legal, sehingga wanita yang ingin menggugurkan kandungannya tidak memilih jalan pintas dengan melakukan cara ilegal yang tidak aman. Apalagi alasan yang mendasari keputusan tersebut berhubungan dengan kondisi medis atau kehamilan hasil pemerkosaan yang jelas legal di mata hukum.