Wanita Karir Indonesia Terbanyak Keenam di Dunia

Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak wanita karir Indonesia yang menduduki pucuk pimpinan perusahaan. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh firma global Grant Thornton pada tahun 2016, fenomena wanita karir di pucuk pimpinan perusahaan terjadi hampir di seluruh dunia. Eropa Timur adalah wilayah yang paling tinggi memberikan kesempatan wanita untuk memegang jabatan strategis di perusahaan. Angka capaiannya adalah 35%, dan hanya 16% perusahaan di kawasan tersebut yang tidak memiliki wanita di posisi manajemen senior.

Para srikandi Asia Tenggara juga menunjukkan tajinya. Sebanyak 34% perusahaan di Asia Tenggara memberikan kesempatan pada wanita untuk menduduki posisi tinggi di perusahaan. Ini merupakan peringkat kedua terbaik di dunia, setelah kawasan Eropa Timur.

wanita karir indonesia

Untuk peringkat negara, Rusia berhasil meraih peringkat pertama dalam hal penempatan wanita di posisi tinggi perusahaan, dengan capaian 45%. Pada tempat kedua dan ketiga diisi oleh Filipina dan Lithuania sebesar 39%. Estonia dan Thailand menduduki posisi keempat dan kelima dengan perolehan 37%. Sementara Indonesia meraih peringkat keenam sebesar 36%. Capaian ini masih lebih baik daripada Latvia, Polandia, Cina, dan Italia.

Lebih menarik lagi, fenomena ini masih jarang ditemui di Amerika Serikat dan Inggris. Keduanya bahkan tidak masuk dalam 10 besar negara dengan wanita berada pada posisi tinggi perusahaan. Pamela Harles dari Grant Thornton AS menuturkan, jarangnya wanita menduduki jabatan tinggi di kedua negara tersebut kemungkinan disebabkan budaya kepemimpinan yang tidak mengakomodir karakteristik feminin.

Norma yang berlaku di masyarakat kedua negara itu menganut gaya kepemimpinan ‘perintah dan kendali.’ Segala sesuatunya berdasarkan arahan dari atas ke bawah. Kepemimpinan dianggap sesuatu yang harus bersifat langsung dan kuat, bukan kolaboratif. Nah, iklim inilah yang rupanya menghambat majunya wanita guna menduduki posisi tertinggi di perusahaan. Boleh dibilang, wanita karir Indonesia sangatlah beruntung karena pergeseran pucuk pimpinan dari laki-laki ke perempuan sudah menjalar juga ke perusahaan.

Mendorong Wanita Menjadi Pemimpin

Masih dalam laporan yang sama, Grant Thornton juga membahas faktor apa saja yang membuat wanita ingin menduduki posisi pemimpin. Secara umum, baik pria dan wanita, sama-sama punya tujuan yang serupa ketika ingin menempatkan dirinya sebagai pimpinan. Seorang pemimpin pasti ingin bisa memberikan pengaruh, entah itu pengaruh internal maupun eksternal dari perusahaan yang mereka pegang.

Hasil survei menunjukkan, ada tujuh alasan utama mengapa seseorang ingin menempati posisi sebagai pemimpin. Alasan tersebut adalah:

  1. Kemampuan untuk mengendalikan strategi bisnis dan memberikan perubahan
  2. Pengakuan atas kemampuan dan keahlian dirinya
  3. Mendapatkan gaji yang lebih tinggi
  4. Kemampuan untuk memberdayakan atau melayani orang lain
  5. Keyakinan yang tinggi untuk bisa mencapai tujuan bisnis
  6. Prestise dan kemampuan mumpuni untuk menjadi sosok yang berpengaruh
  7. Memberikan kontribusi positif pada komunitas lokal

Secara khusus, alasan ingin mendapatkan gaji lebih tinggi menjadi sorotan. Hal ini terkait dengan keberadaan perempuan bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. Posisi tinggi memungkinkan mereka mendapat penghasilan lebih besar, sehingga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi dengan baik.

Bicara soal keluarga, pada sisi berlainan, hal ini justru bisa menghambat seorang wanita untuk mengambil posisi pemimpin di perusahaan. Munculnya persepsi bahwa seorang pemimpin harus memilih antara sukses karir atau kehidupan keluarga kerap menjadi alasan wanita enggan mengambil promosi jabatannya. Paradigma inilah yang harus diubah.

Salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi wanita untuk mau meraih posisi tinggi di perusahaan adalah dengan menciptakan lingkungan kerja yang ramah keluarga. Beberapa contoh kebijakan yang bisa dilakukan adalah pengadaan daycare di kantor, cuti mendampingi istri melahirkan yang lebih panjang, cuti melahirkan yang proporsional, dan jam kerja yang fleksibel. Dengan demikian, wanita lebih termotivasi untuk berkarir dan mencapai posisi tinggi tanpa harus merasa bersalah karena mengabaikan keluarga.

Kunci utama seorang pemimpin wanita memang terletak di sini: keseimbangan antara kehidupan keluarga dan pekerjaan. Mengubah persepsi bahwa wanita karir Indonesia bisa memiliki kedua hal tersebut, tanpa harus memilih salah satu, menjadi isu tersendiri yang perlu diperhatikan oleh perusahaan.

Apalagi, seiring masuknya generasi milenial ke dalam usia produktif, tren work-life balance dan fleksibilitas dalam bekerja akan segera mendunia. Mendorong wanita untuk menduduki pucuk pimpinan perusahaan adalah langkah awal bagi perusahaan dalam mengakomodir work-life balance di tahun-tahun mendatang. Hal terpenting adalah membuat karyawan nyaman bekerja, sehingga produktivitasnya meningkat. Pada akhirnya, kinerja perusahaan juga ikut membaik.